Xabi Alonso Gagal Penuhi Ekspektasi Pelatih Real Madrid?

Xabi Alonso

Awal Karier Alonso yang Dramatis di Real Madrid

Xabi Alonso menutup konferensi pers terakhirnya di tahun 2025 dengan satu kata sederhana: “Tenang.” Sebuah pernyataan singkat yang sarat makna, terutama di tengah tekanan besar yang menyelimuti posisinya sebagai pelatih kepala Real Madrid. Meskipun menang 2-0 atas Sevilla, spekulasi masa depan Alonso tetap ramai dibicarakan.

Enam bulan pertamanya sebagai pelatih Los Blancos berjalan penuh pasang surut. Alonso membuka masa kepemimpinannya dengan kekalahan telak 0-4 dari Paris Saint-Germain di semifinal Piala Dunia Antarklub, sebuah turnamen yang ia anggap bagian dari musim sebelumnya. Namun, start buruk itu langsung dibalas dengan performa impresif—13 kemenangan dari 14 pertandingan pertamanya.

Sayangnya, momentum awal itu tidak bertahan lama. Rentetan hasil mengecewakan kemudian menghantui: kekalahan 5-2 dari Atletico Madrid, kekalahan di Liga Champions dari Liverpool, hingga hasil imbang yang beruntun di LaLiga. Bahkan kekalahan dari Celta Vigo dan Manchester City membuat tekanan terhadap Alonso makin besar menjelang libur Natal.

Baca Juga : “Nkunku Cetak Gol, Modric Bahagia, Milan Menang Sempurna“

Statistik Alonso: Di Atas Kertas Menjanjikan, Di Lapangan Kurang Meyakinkan

Dari 25 pertandingan kompetitif pertamanya di LaLiga, Liga Champions, dan Copa del Rey, Xabi Alonso mencatatkan 18 kemenangan atau 72% rasio kemenangan. Angka ini setara dengan Santiago Solari dan hanya satu kemenangan di bawah Carlo Ancelotti serta Zinedine Zidane dalam periode awal mereka.

Real Madrid mencetak rata-rata 2,08 gol per pertandingan dan kebobolan 1 gol. Namun, dari 11 pertandingan terakhir, hanya tiga kemenangan yang diperoleh. Sisanya terdiri dari tiga kekalahan, tiga hasil imbang, dan lima penampilan kurang meyakinkan. Salah satu penampilan terbaik terakhir hanya datang saat menang 3-0 atas Athletic Club.

Perbandingan dengan Pelatih-Pelatih Sebelumnya

Melihat performa Alonso secara komparatif, memberikan perspektif yang lebih luas:

  • José Mourinho (2010): Meraih 20 kemenangan (80%), 15 clean sheet, dan hanya kebobolan 0,4 gol per laga. Meskipun diwarnai kekalahan besar 0-5 dari Barcelona, statistik Mourinho menunjukkan dominasi awal yang sangat kuat.
  • Carlo Ancelotti (2013 & 2021): Di periode pertama mencatat 19 kemenangan (76%) dengan 71 gol. Di periode kedua, performanya makin impresif dengan rekor tak terkalahkan 15 laga dan kemenangan atas rival sekota dan El Clásico.
  • Zinedine Zidane (2016 & 2019): Pada periode pertama, Zidane menang 19 kali (76%) dan mengantar Madrid ke gelar Liga Champions hanya dalam lima bulan. Namun, periode keduanya lebih sulit, hanya 48% kemenangan dari 25 pertandingan awal.
  • Rafa Benítez (2015): 64% kemenangan, namun dikalahkan Barcelona 0-4 di Bernabéu dan hanya bertahan 215 hari.
  • Julen Lopetegui (2018): Masa terpendek dan paling buruk dengan 46% kemenangan. Tersingkir karena kalah 1-5 dari Barcelona, tanpa gol dalam hampir delapan jam pertandingan.
  • Santiago Solari (2018): Punya statistik mirip Alonso (72% kemenangan), namun juga dipecat setelah kalah dari Barcelona dan Ajax secara beruntun.

Ketegangan di Bernabéu: Alonso dalam Sorotan

Meskipun catatan kemenangannya cukup baik, Alonso tidak bisa menenangkan keresahan publik Bernabéu hanya dengan statistik. Siulan ketidakpuasan terdengar jelas saat melawan Sevilla. Presiden Florentino Pérez dikenal tidak sabar terhadap pelatih yang tak konsisten membawa tim ke puncak performa.

Masalah cedera menjadi pembelaan utama Alonso. Ia menyebut bahwa kehilangan 11 pemain tim utama secara bersamaan sangat menghambat konsistensi tim. Tetapi di Real Madrid, alasan saja tidak cukup. Klub ini menuntut kemenangan dan gelar sebagai standar minimum.

Peluang dan Tantangan Menjelang Paruh Musim

Masa depan Alonso kini berada di persimpangan. Tiga kemenangan terakhir memang membantu meredakan tekanan, namun tidak cukup untuk menjamin kelangsungan jabatannya. Terlebih, para pesaing di LaLiga terus menjaga konsistensi, dan tekanan di Liga Champions tak kalah tinggi.

Dengan kompetisi masih panjang dan banyaknya pemain cedera yang mulai pulih, Alonso masih punya peluang membalikkan keadaan. Ia sudah membuktikan potensi dengan performa di awal musim. Namun, untuk bertahan, Alonso butuh lebih dari sekadar potensi—ia butuh trofi.

Kesimpulan: Layak Diberi Waktu atau Sudah Saatnya Berpisah?

Xabi Alonso bukan tanpa harapan. Statistik menunjukkan kapasitas dan kualitasnya sebagai pelatih. Namun, Real Madrid adalah klub yang tidak mentolerir masa adaptasi terlalu lama. Sejarah membuktikan bahwa bahkan pelatih dengan prestasi bagus pun bisa tersingkir jika kehilangan dukungan dalam waktu singkat.

Apakah Alonso layak dipecat? Jawaban tergantung pada bagaimana ia mengelola tekanan dan menyatukan kembali timnya di paruh kedua musim. Jika tidak ada peningkatan signifikan, sejarah bisa terulang seperti kasus Lopetegui, Benítez, atau bahkan Solari.

Bagi publik dan manajemen Real Madrid, ketenangan yang dikatakan Alonso harus dibuktikan dengan konsistensi. Jika tidak, kata “tenang” bisa menjadi ironi terakhir dari masa kepemimpinannya yang singkat di Santiago Bernabéu.

Baca Juga : “Madrid Hat-trick Kemenangan, Kursi Pelatih Xabi Alonso Belum Aman“

Exit mobile version