Kegagalan Brasil, Pertaruhan Carlo Ancelotti yang Gagal

kabardetik.id – Penunjukan Carlo Ancelotti sebagai pelatih timnas Brasil semula dipandang sebagai langkah berani untuk membuka era baru Selecao. Namun, tersingkirnya Brasil dari Piala Dunia 2026 membuat keputusan tersebut kembali diperdebatkan. Harapan besar terhadap pelatih asing permanen pertama Brasil berubah menjadi tekanan besar setelah perjalanan tim berakhir lebih cepat dari target.

Ancelotti Datang dengan Ekspektasi Tinggi

Carlo Ancelotti resmi memulai tugasnya bersama Brasil pada 26 Mei 2025 setelah menyelesaikan musim bersama Real Madrid. Ia menggantikan Dorival Junior, yang diberhentikan usai kekalahan telak 4-1 dari Argentina dalam kualifikasi Piala Dunia 2026.

Federasi Sepak Bola Brasil atau CBF menilai Ancelotti sebagai sosok ideal untuk mengembalikan Brasil ke jalur juara. Reputasinya sebagai pelatih elite Eropa menjadi alasan utama. Ia datang dengan pengalaman besar, termasuk lima gelar Liga Champions yang membuat namanya dihormati di sepak bola dunia.

Presiden CBF, Ednaldo Rodrigues, menyebut kehadiran Ancelotti sebagai simbol harapan baru. Brasil berharap pendekatan taktis dan mentalitas juara sang pelatih mampu mengakhiri masa sulit Selecao di turnamen besar.

Brasil Tersingkir Lebih Cepat dari Harapan

Ambisi Brasil di Piala Dunia 2026 terhenti secara mengejutkan pada babak 16 besar. Selecao kalah 2-1 dari Norwegia dalam laga yang berlangsung di MetLife Stadium, New York.

Norwegia memastikan kemenangan melalui dua gol Erling Haaland pada menit ke-79 dan ke-90. Brasil hanya mampu memperkecil kedudukan lewat penalti Neymar pada masa injury time.

Kekalahan itu terasa semakin pahit karena Brasil sebenarnya memiliki peluang besar untuk mengendalikan pertandingan. Bruno Guimaraes gagal mengeksekusi penalti pada menit ke-13. Selain itu, sejumlah peluang Brasil juga mampu digagalkan kiper Norwegia, Orjan Nyland.

Hasil tersebut menjadi pukulan besar bagi sepak bola Brasil. Selecao untuk pertama kalinya sejak 1990 kembali tersingkir di babak 16 besar Piala Dunia. Publik Brasil pun menilai kegagalan ini sebagai tanda bahwa proyek besar Ancelotti belum berjalan sesuai harapan.

Baca Juga : “Meksiko vs Inggris: Tuan Rumah Tantang Raksasa Eropa“

Kritik Muncul soal Hilangnya Jogo Bonito

Kegagalan Brasil kembali memunculkan perdebatan lama tentang identitas permainan Selecao. Banyak pihak menilai Brasil semakin jauh dari filosofi Jogo Bonito, gaya bermain indah yang selama puluhan tahun menjadi ciri khas mereka.

Mantan kapten Brasil, Cafu, pernah menegaskan bahwa Jogo Bonito sudah tidak lagi menjadi hal utama dalam sepak bola modern. Menurutnya, hasil kini lebih penting daripada sekadar tampil indah.

Ancelotti juga memahami kritik tersebut. Ia menilai Brasil tidak bisa hanya mengandalkan bakat individu. Menurutnya, kemenangan di turnamen modern membutuhkan organisasi permainan, pertahanan disiplin, dan keseimbangan antarlini.

Pandangan itu menunjukkan perubahan besar dalam cara Brasil membangun tim. Namun, ketika hasil tidak sesuai harapan, pendekatan pragmatis Ancelotti justru menjadi sasaran kritik.

Tantangan Pelatih Asing Masih Membayangi Brasil

Penunjukan Ancelotti sejak awal membawa beban sejarah yang berat. Dalam sejarah Piala Dunia, belum ada pelatih asing yang berhasil membawa negara lain menjadi juara dunia.

Sejak edisi pertama pada 1930 hingga Piala Dunia 2022, seluruh pelatih juara berasal dari negara yang mereka latih. Fakta ini membuat misi Ancelotti bersama Brasil bukan hanya soal taktik, tetapi juga soal mematahkan kutukan panjang.

Beberapa pelatih asing memang pernah mencatat prestasi besar. Guus Hiddink membawa Korea Selatan mencapai semifinal Piala Dunia 2002. Luiz Felipe Scolari juga membawa Portugal melaju ke semifinal Piala Dunia 2006. Namun, belum ada yang benar-benar mampu mengangkat trofi.

Masa Depan Brasil Masih Menyisakan Tanda Tanya

Setelah kekalahan dari Norwegia, Ancelotti menyebut kegagalan itu bukan akhir dari proyek Brasil. Ia menilai hasil tersebut harus menjadi awal dari siklus baru, terutama untuk membangun ulang lini tengah dan memperkuat struktur permainan.

Brasil kini menghadapi pekerjaan besar. Mereka harus menentukan apakah tetap mempercayai proyek jangka panjang Ancelotti atau kembali mencari pendekatan yang lebih dekat dengan tradisi sepak bola mereka.

Kegagalan di Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa reputasi besar saja tidak cukup. Brasil membutuhkan identitas yang jelas, regenerasi pemain yang kuat, dan strategi yang mampu menjawab tuntutan sepak bola modern.

Pertaruhan terhadap Carlo Ancelotti belum tentu selesai. Namun, kekalahan ini membuktikan bahwa jalan Brasil menuju kejayaan masih jauh lebih rumit daripada sekadar menunjuk pelatih paling sukses di level klub

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *